Minggu, 25 Maret 2012

Belajar ngegombal

Gombalan 1
ce: udah ah aku gak mau keseringan ketemu kamu.
co: kenapa?
ce: takut diabetes aku kumat.
co: kok bisa?
ce: kemanisan liat senyum kamu

Gombalan 2

co : kamu tau gak malam apa yang paling menakutkan..??
ce : aku tau,ya malam jum'at kliwon. .
co : tapi bagiku bukan itu. .
ce : terus apa??
ce : malam yang paling menakutkan adalah malam malam ku tanpamu..
ce : so sweet. .

Gombalan 3

co: yank, kamu tau tidak apa bedanya kereta api sama kamu ??
ce: kalau kereta benda mati kalau km benda hidup
co: betul, tapi ada 1 lagi yang terlewatkan.
ce: memang nya apa lagi??
co: kalau kereta api berhenti di stasiun, kalau aku berhenti di hatimu
ce: bisa saja

Gombalan 4

co: yank... ??
ce: apa yank??
co: aku mau kamu ku jadikan sesuatu. kamu mau gak yank??
ce: memang nya aku mau di jadi kan apa??
co: aku mau kamu jadi cahaya yang selalu bersinar di hatiku
ce: so sweet

Gombalan 5

co: sayang,temenin aku ke apotik yuk!!
ce: lah,ngapain yank?
co: mau beli obat demam sayang
ce: loh kok tiba-tiba demam sayang?
co: iya aku lagi demam cinta kamu

Gombalan 6

co: Eh eh.. aku ada tebakan neh
ce: excited .. ok ok.. apa tebakannya
co: Panda apa yang paling imut manis dan lucu?
ce: Semua panda mah imut kali..
co: Engga.. ada satu yg paling ga ngebosenin..
ce: Nyerah deh..
co: Panda-ngin kamu sepanjang hari..
ce: Ah.. abang ah..

Gombalan 7

co : neng .. Abang OTW yah ,!!
ce : OTW kemana bang ??
co : OTW kehati kamu
ce : iihh abang bisa aja deh, yaudah neng tunggu yah..

Gombalan 8

co: Neng apa bedanya kutu sama kamu?
ce: ihhh..jorok! emang apa bang?
co: kalau kutu ngisap darah ku, kalau kamu ngisap dompet ku
ce: kurang ajar!
co:becanda neng..

Gombalan 8

hemat pangkal kaya
rajin pangkal pandai
kalo kamu pangkalan hati aku

Gombalan 9

co : yaang, boleh gak aku ketemu mamah kamu ?
ce: mau ngapain yaang ??
co: cuma mau bilang makasih udah ngelahirin kamu buat aku

Gombalan 10

cinta sama kmu tuh bagaikan mau buang air besar ,,, soalnya tak bisa di tahan lagi !!!

Gombalan 11
co: Neng tolong dong..aku gak bisa ngliat nih..
ce: loh! kok bisa bang?
co: iya aku buta..buta karena cinta mu

Selasa, 20 Maret 2012

Siapakah Suamimu di Surga Kelak ?

Saudariku muslimah, tahukah kamu siapa suamimu di surga kelak?(1)  Artikel di bawah ini akan menjawab pertanyaan anti. Ini bukan ramalan dan bukan pula tebakan, tapi kepastian (atau minimal suatu prediksi yang insya Allah sangat akurat), yang bersumber dari wahyu dan komentar para ulama terhadapnya. Berikut uraiannya:
Perlu diketahui bahwa keadaan wanita di dunia, tidak lepas dari enam keadaan:
1.    Dia meninggal sebelum menikah.
2.    Dia meninggal setelah ditalak suaminya dan dia belum sempat menikah lagi sampai meninggal.
3.    Dia sudah menikah, hanya saja suaminya tidak masuk bersamanya ke dalam surga, wal’iyadzu billah.
4.    Dia meninggal setelah menikah baik suaminya menikah lagi sepeninggalnya maupun tidak (yakni jika dia meninggal terlebih dahulu sebelum suaminya).
5.    Suaminya meninggal terlebih dahulu, kemudian dia tidak menikah lagi sampai meninggal.
6.    Suaminya meninggal terlebih dahulu, lalu dia menikah lagi setelahnya.

Berikut penjelasan keadaan mereka masing-masing di dalam surga:
Perlu diketahui bahwa keadaan laki-laki di dunia, juga sama dengan  keadaan wanita di dunia: Di antara mereka ada yang meninggal sebelum menikah, di antara mereka ada yang mentalak istrinya kemudian meninggal dan belum sempat menikah lagi, dan di antara mereka ada yang istrinya tidak mengikutinya masuk ke dalam surga. Maka, wanita pada keadaan pertama, kedua, dan ketiga, Allah -’Azza wa Jalla- akan menikahkannya dengan laki-laki dari anak Adam yang juga masuk ke dalam surga tanpa mempunyai istri karena tiga keadaan tadi. Yakni laki-laki yang meninggal sebelum menikah, laki-laki yang berpisah dengan istrinya lalu meninggal sebelum menikah lagi, dan laki-laki yang masuk surga tapi istrinya tidak masuk surga.
Ini berdasarkan keumuman sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits riwayat Muslim no. 2834 dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-:
مَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبٌ
“Tidak ada seorangpun bujangan dalam surga”.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- berkata dalam Al-Fatawa jilid 2 no. 177, “Jawabannya terambil dari keumuman firman Allah -Ta’ala-:
وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلاً مِنْ غَفُوْرٍ رَحِيْمٍ
“Di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta. Turun dari Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 31)
Dan juga dari firman Allah -Ta’ala-:
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya.” (Az-Zukhruf: 71)
Seorang wanita, jika dia termasuk ke dalam penghuni surga akan tetapi dia belum menikah (di dunia) atau suaminya tidak termasuk ke dalam penghuhi surga, ketika dia masuk ke dalam surga maka di sana ada laki-laki penghuni surga yang belum menikah (di dunia). Mereka -maksud saya adalah laki-laki yang belum menikah (di dunia)-, mereka mempunyai istri-istri dari kalangan bidadari dan mereka juga mempunyai istri-istri dari kalangan wanita dunia jika mereka mau. Demikian pula yang kita katakan perihal wanita jika mereka (masuk ke surga) dalam keadaan tidak bersuami atau dia sudah bersuami di dunia akan tetapi suaminya tidak masuk ke dalam surga. Dia (wanita tersebut), jika dia ingin menikah, maka pasti dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, berdasarkan keumuman ayat-ayat di atas”.
Dan beliau juga berkata pada no. 178, “Jika dia (wanita tersebut) belum menikah ketika di dunia, maka Allah -Ta’ala- akan menikahkannya dengan (laki-laki) yang dia senangi di surga. Maka, kenikmatan di surga, tidaklah terbatas kepada kaum lelaki, tapi bersifat umum untuk kaum lelaki dan wanita. Dan di antara kenikmatan-kenikmatan tersebut adalah pernikahan”.
Adapun wanita pada keadaan keempat dan kelima, maka dia akan menjadi istri dari suaminya di dunia.>
Adapun wanita yang menikah lagi setelah suaminya pertamanyaý meninggal, maka ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama -seperti Syaikh Ibnu ‘Ustaimin- berpendapat bahwa wanita tersebut akan dibiarkan memilih suami mana yang dia inginkan.
Ini merupakan pendapat yang cukup kuat, seandainya tidak ada nash tegas dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- yang menyatakan bahwa seorang wanita itu milik suaminya yang paling terakhir. Beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
اَلْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا
“Wanita itu milik suaminya yang paling terakhir”. (HR. Abu Asy-Syaikh dalam At-Tarikh hal. 270 dari sahabat Abu Darda` dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah: 3/275/1281)
Dan juga berdasarkan ucapan Hudzaifah -radhiyallahu ‘anhu- kepada istri beliau:
إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تُزَوِّجِي بَعْدِي. فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا. فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجُهُ فِي الْجَنَّةِ
“Jika kamu mau menjadi istriku di surga, maka janganlah kamu menikah lagi sepeninggalku, karena wanita di surga milik suaminya yang paling terakhir di dunia. Karenanya, Allah mengharamkan para istri Nabi untuk menikah lagi sepeninggal beliau karena mereka adalah istri-istri beliau di surga”. (HR. Al-Baihaqi: 7/69/13199 )
Faidah:
Dalam sholat jenazah, kita mendo’akan kepada mayit wanita:
وَأَبْدِلْهَا زَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا
“Dan gantilah untuknya suami yang lebih baik dari suaminya (di dunia)”.
Masalahnya, bagaimana jika wanita tersebut meninggal dalam keadaan belum menikah. Atau kalau dia telah menikah, maka bagaimana mungkin kita mendo’akannya untuk digantikan suami sementara suaminya di dunia, itu juga yang akan menjadi suaminya di surga?
Jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah-. Beliau menyatakan, “Kalau wanita itu belum menikah, maka yang diinginkan adalah (suami) yang lebih baik daripada suami yang ditakdirkan untuknya seandainya dia hidup (dan menikah). Adapun kalau wanita tersebut sudah menikah, maka yang diinginkan dengan “suami yang lebih baik dari suaminya” adalah lebih baik dalam hal sifat-sifatnya di dunia (2). Hal ini karena penggantian sesuatu kadang berupa pergantian dzat, sebagaimana misalnya saya menukar kambing dengan keledai. Dan terkadang berupa pergantian sifat-sifat, sebagaimana kalau misalnya saya mengatakan, “Semoga Allah mengganti kekafiran orang ini dengan keimanan”, dan sebagaimana dalam firman Allah -Ta’ala-:
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” (Ibrahim: 48)
Bumi (yang kedua) itu juga bumi (yang pertama) akan tetapi yang sudah diratakan, demikian pula langit (yang kedua) itu juga langit (yang pertama) akan tetapi langit yang sudah pecah”. Jawaban beliau dinukil dari risalah Ahwalun Nisa` fil Jannah karya Sulaiman bin Sholih Al-Khurosy.
___________
(1) Karenanya sebelum berpikir masalah ini, pikirkan dulu bagaimana caranya masuk surga.
(2) Maksudnya, suaminya sama tapi sifatnya menjadi lebih baik dibandingkan ketika di dunia.
-disalin dari www.al-atsariyyah.com oleh Al-Ustadz Abu Muawiah-

Mewaspadai bahaya Da’i – da’i yang Jelek

Wahai Wanita Muslimah,

Waspadailah da’i-da’i jelek dan penyeru kemajuan ‘emansipasi wanita’, yang dengan tipu daya dan langkah kaki mereka, berusaha untuk merusak muslimah dan mengeluarkan muslimah dari menjaga pakaiannya yang syar’i dan menjaga kehormatan dirinya, menjadi wanita yang ‘telanjang’ dan mengumbar kehormatannya dengan segala cara dan sarana.

Bila kita perhatikan, banyak da’i-da’i jelek yang melecehkan hijab wanita muslimah, bahwa itu menghambat kemajuan wanita, wanita tidak bisa bergerak bebas, bahwa hijab itu hanya budaya Arob saja.
Apa yang mereka hasilkan ternyata luar biasa. Banyak wanita muslimah terjatuh dalam ‘emansipasi wanita’, membuka pakaiannya tanpa ada rasa malu sedikitpun.
Padahal WAJIB bagi muslimah untuk menutup auratnya.
Bila mereka beralasan, “yang penting hatinya baik…,” padahal yang akan terjadi adalah hatinya akan semakin mati karena meninggalkan kewajiban dari Alloh ta’ala.
Jadilah anda wanita yang bangga dengan agamanya, merasa mulia dengan agama dan aqidahnya. Jangan malu untuk menampakkan syiar keagamaan anda. Jangan minder untuk memakai cadar/niqob.
Jangan engkau seperti bunglon, yang berubah-ubah mengikuti lingkungannya.
dirangkum dari Kajian MP3 Ustadz Agus Su’aidi ; kajian kitab Khomsuuna Zahroh Min Haqli Nushhi

Hadist hari ini

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Hadist Hari ini :
Dari Itban ra. Bahwa Rasulullah Saw. Bersabda :
" Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang-orang yang mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAAH dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah.

PUDARNYA PESONA BAHASA INDONESIA

Tanda-tanda menurunnya kebanggaan berbahasa Indonesia sepertinya semakin menguat. Bisa jadi, kecenderungan tersebut juga tercermin dari perubahan perilaku dan cara bersikap kebanyakan masyarakat Indonesia saat ini. Hal yang bisa dengan mudah kita cermati dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di jalanan.
Banyak ahli, utamanya psikolog menyatakan bahwa bahasa dipercaya dapat menunjukkan berbagai aspek dari manusia, termasuk budaya dan perilakunya. Lebih jauh, cara seseorang berbicara dan gaya bahasa yang digunakan, akan menunjukkan pola pikir dan cara seseorang dalam memandang kehidupan. Hal ini misalnya disampaikan oleh Lera Boroditsky, seorang profesor psikologi dari Universitas Stanford dalam artikelnya berjudul ‘Lost in Translation’ (The Wall Street Journal, 24 Juli 2010).
Salah satu pertanda menurunnya kebanggaan berbahasa Indonesia, antara lain terlihat dari semakin banyaknya penggunaan bahasa dan istilah asing, utamanya bahasa Inggris. Baik oleh masyarakat biasa maupun para tokoh masyarakat dan para petinggi negara. Bahkan, ruang kerja khusus kepresidenan termutakhir yang diresmikan presiden pertengahan Juli lalu juga menggunakan istilah bahasa Inggris, yaitu ‘situation room’. Mungkin meminjam istilah untuk ruang kerja serupa bagi Presiden Amerika Serikat (AS) yang tentunya jauh lebih canggih, di sayap barat Gedung Putih, Washington DC. Meskipun situation room di AS lebih untuk urusan di bidang pertahanan dan keamanan serta intelijen. Konon penamaan ruangan dengan bahasa asing ini hanya sementara, menunggu nama yang lebih pas. Paling tidak, ini menunjukkan bahwa terminologi asing lebih diakrabi.
Contoh lain adalah menjamurnya sekolah-sekolah yang berlabel berstandar internasional dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Sekolah-sekolah ini bahkan seringkali pembayaran uang sekolahnyapun menggunakan mata uang asing. Sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai pula dengan peraturan perundangan mengenai penggunaan alat pembayaran yang sah di negeri ini.
Semangat untuk belajar dan menguasai bahasa asing memang sudah merupakan tuntutan jaman, namun mengkhawatirkan bila hal ini membuat generasi penerus bangsa menjadi semakin tidak fasih berbahasa Indonesia. Padahal, bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan sebagaimana deklarasi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, dan sebagai perekat utama bangsa ini. Apa jadinya bila semakin banyak anak bangsa yang tidak lagi berkomunikasi dalam bahasanya sendiri, meski di negeri sendiri?
Kebutuhan untuk bahasa asing yang memang semakin penting tidak seharusnya lantas melupakan bahasa ibu. Misalnya hanya digunakan pada saat berkomunikasi dan berkorespondensi dengan pihak asing, maupun dalam forum-forum internasional.
Hal yang sangat berbeda terjadi di China, raksasa baru dunia. Pejabat-pejabat pemerintahan China bahkan tetap menggunakan bahasanya di dalam pertemuan-pertemuan resmi dengan pihak asing, baik di dalam negeri maupun di acara-acara internasional. Padahal banyak masyarakat di China yang fasih berbahasa Inggris.
Fenomena semakin memudarnya pamor bahasa Indonesia terutama terjadi di kota-kota besar, terutama Jakarta. Meski sekarang mulai merambah pula ke kota-kota lain di Indonesia.
Banyak pihak yang sebenarnya sudah khawatir dengan kecenderungan tadi. Para pemerhati dan ahli bahasa Indonesia sudah beberapa kali mengingatkan pentingnya menjaga keutuhan dan kebenaran bahasa Indonesia. Bahkan pernah ada rancangan undang-undang kebahasaaan (RUU Kebahasaan) untuk menyelamatkan bahasa Indonesia. RUU yang disusun oleh Pusat Bahasa Depdiknas ini pernah ramai dibicarakan tahun 2006/2007 lalu, namun entah kemana nasibnya kini.
Kecenderungan semakin turunnya pamor bahasa Indonesia menjadi perhatian pula orang asing. Tengok misalnya artikel Norimitsu Onishi berjudul ‘As English Spreads, Indonesian Fear for Their Language’ (The New York Times, 25 Juli 2010). Artikelnya antara menyoroti semakin banyaknya anak-anak Indonesia, yang meskipun hidup dan tinggal di Indonesia namun justru lebih mahir berbahasa Inggris. Biasanya anak-anak ini dari pasangan keluarga muda yang orangtuanya mengenyam pendidikan di luar negeri, terutama Amerika Serikat dan Australia.
Cara berbahasa Indonesiapun ternyata telah mengalami semacam evolusi, menjadi semakin minimalis. Hal dinyatakan oleh Qaris Tajudin, wartawan majalah Tempo. Dalam rubrik Bahasa di majalah tersebut edisi 26 Juli – 1 Agustus 2010, dia menyatakan bawha gaya berbahasa Indonesia sekarang cenderung minimalis. Kecendrungan ini katanya mengindikasikan keengganan (keterpaksaan) dalam berbahasa Indonesia. Hal yang lebih mengkhawatirkan, katanya hal tersebut menunjukkan tendensi perilaku yang malas berpikir. Tentu gawat kalau benar seperti ini.
Rasanya, indikasi-indikasi tersebut semakin ada benarnya. Perilaku sebagian masyarakat yang dengan mudah kita cermati menunjukkan kecenderungan tadi. Tengok misalnya dalam berbagai dialog atau debat publik dari para pakar dan tokoh yang disiarkan berbagai stasiun televisi. Cara mereka berkomentar, berpendapat dan bersanggahan, pilihan kata dan ekspresinya, sepertinya tidak mencerminkan budaya bangsa ini seperti yang diceritakan para sesepuhdulu. Demokrasi dan keterbukaan tidak semestinya harus mengubah jati diri bangsa, walaupun para pejuang demokrasi belajar dari dan di manca negara.
Bila benar bahwa salah satu perekat bangsa ini semakin tersingkirkan, rasanya memang perlu khawatir. Mudah-mudahan para tokoh masyarakat dan para petinggi negara semakin menaruh perhatian akan fenomena ini. Juga memberi contoh bagaimana seharusnya.
Kemampuan untuk menguasai bahasa asing memang penting, bahkan harus, agar bisa maju dan bersaing secara global. Namun yang lebih penting adalah tahu kapan hal itu digunakan, dengan siapa dan dimana. Dengan begitu, keutuhan dan jati diri bangsa tetap terjaga. Merdeka!!!

Kamis, 15 Maret 2012

Keputusan KONI

Inilah 9 Keputusan KONI Terkait Kisruh PSSI

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) akan mengambil alih kepengurusan PSSI jika konflik dualisme tidak segera terselesaikan.

Untuk menyelesaikan kisruh di tubuh PSSI, KONI mengeluarkan sembilan keputusan setelah mengupayakan rekonsiliasi antara PSSI dengan Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia (KPSI).

Berikut sembilan keputusan KONI untuk menyelamatkan PSSI:

1. Belajar dari pengalaman dua kali Kongres Luar Biasa (KLB) sebelumnya, maka KLB bukan satu-satunya cara penyelesaian konflik PSSI. Untuk menjunjung tinggi prinsip dasar olahraga, fairness & respect, sepatutnya penyelesaian persoalan tidak melalui KLB.

KONI merekomendasikan kepada PSSI dan KPSI untuk terus-menerus tanpa henti melakukan rekonsiliasi penyelesaian permasalahan yang terjadi. Sesuai statuta PSSI dan regulasi sepakbola lainnya dengan supervisi KONI sebagai induk organisasi olahraga nasional sebagaimana diatur dalam UU nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.

2. Jika KLB dapat dihindari maka PSSI dan KPSI bersama-sama melaksanakan kongres biasa (tahunan) sesuai amanah statuta PSSI dengan merujuk pada keputusan Kongres PSSI tanggal 19 Januari 2011 di Bali dan Kongres PSSI tanggal 9 Juli 2011 di Solo.

3. KONI menyadari bahwa KLB yang sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang diatur dalam Statuta PSSI adalah hak konstitusional kedaulatan anggota yang harus dihormati. Jika PSSI dan KPSI bersama-sama melaksanakan KLB, maka sepatutnya agenda KLB hanya terbatas pada perubahan statuta PSSI.

4. Jika PSSI dan KPSI tetap pada pendirian masing-masing, maka KONI mempersilahkan untuk menyelesaikan permasalhan tersebut melalui Badan Arbitrase Olahraga Republik Indonesia (BAORI).

5. Dengan Mandat/persetujuan PSSI dan KPSI, KONI menyelenggarakan KLB yang agendanya terlebih dahulu mengubah Statuta PSSI dan kemudian Memilih Ketua Umum.

6. Jika poin 1,2,3,4 dan 5 tersebut di atas tidak dapat terselesaikan, KONI akan mengambil alih sementara kepengurusan olahraga sepakbola Indonesia hingga digelarnya KLB. Sebagaimana diatur dalam Statuta KONI pasal 30 ayat (9).

7. Berkaitan dengan kompetisi yang sedang berlangsung, KONI berpendapat bahwa kedua kompetisi mempunyai spirit yang sama untuk memajukan sepakbola nasional. Karenanya KONI akan mengakui kompetisi IPL dan ISL secara hukum dengan sah serta berjalan dengan pengelolaan yang profesional, transparan dan berkualitas.

8. Kompetisi tetap dilaksanakan karena terkait dengan kontrak pihak ketiga. Kemudian dalam kurun waktu paling lama tiga tahun melakukan rekonsiliasi, setelah lebih dahulu mengkaji serta menemukan sistem kompetisi yang tepat dan menuntaskannya dengan melakukan revisi atas Statuta PSSI.

9. Tim Nasional adalah harkat dan martabat bangsa, oleh karena itu pembentukan timnas haruslah dilakukan tanpa diskriminasi dan memakai pemain terbaik yang pantas dan patut bermain sebagai pemain Timnas baik IPL, ISL dan klub lainnya.

Selasa, 13 Maret 2012

Dunia Islam


Sampaikan walau sebesar debu yang beterbangan ditiup angin

BUKU Kebenaran Islam Menurut Mantan Pendeta (DR. Muhammad Yahya Waloni)

Sebagai pakar teologi, Pendeta Yahya Yopie Waloni sangat mengetahui teori-teori yang ada dalam agama Islam. Meskipun masih beragama Kristen, Yahya memandang teori apa pun yang ada di Islam sangat benar. Islam pun, mampu menceritakan peradaban dunia dari yang lalu sampai sekarang. Bahkan, agama Kristen diceritakan pula dalam Islam.
Namun, menurut pria kelahiran Manado tahun 1970 ini, yang paling membuatnya tunduk patuh hingga memutuskan untuk masuk Islam pada Oktober 2006 adalah Islam menunjuk satu individu yang sangat tepat untuk menyebarkan ajarannya. “Ada satu individu yang membuat saya tunduk dan patuh, dia buta huruf tapi bisa menyusun Alquran secara sistematis,” ujar pria yang mengganti namanya menjadi M Yahya Waloni setelah memeluk agama Islam itu kepada Republika.
Menurut suami dari Lusiana (33) yang mengganti namanya menjadi Mutmainnah setelah memeluk Islam itu, dirinya masuk agama islam karena dari sistematika teori Islam sudah benar. Sebagai akamdemisi, kata dia, dirinya pun berpikir orang yang sudah memili teori benar saja bisa salah apalagi yang tidak memiliki teori yang benar. “Orang Islam yang sudah memiliki teori yang benar saja bisa salah apalagi yang tidak memiliki teori benar. Jadi, saya mengakui Islam secara teori dan spiritual,” ujar Yahya.
Ketertarikan Yahya untuk masuk Islam, kata dia, sebenarnya sudah ada sejak kecil, saat berumur sekitar 14 tahun. Pada usia itu, dirinya sudah ke masjd karena tertarik melihat banyak orang islam menggunakan pakaian seperti yang digambarkan di agamanya yaitu baju ikhram. Selain itu, dirinya pun sangat tertarik dengan gendang yang suka dimainkan di masjid-masjid.
“Saya hanya berani ke masjid satu kali saja karena ketahuan dan dipukul sampai babak belur oleh bapak saya. Kalau nekad ke masjid lagi, saya takut bapak saya yang seorang tentara akan menggantung saya,” ujar pria yang memiliki hobi bermain gendang ini.
Namun, sambung pria yang pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004 ini, dari sekian kejadian yang mendorongnya untuk memeluk Islam adalah pengalaman spiritual yang dialaminya. “Suatu hari, saya bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lama kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli,” ia memulai kisahnya.
Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut dengan waktu pertemuan yang sama yaitu pukul 09.45 Wita. “Kepada saya, si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Dia baik sekali dengan saya,” ujar bapak dari Silvana (8 tahun, kini bernama Nur Hidayah), Sarah (7 tahun, menjadi Siti Sarah), dan Zakaria (4 tahun) ini.
Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, kata Yahya, dirinya berdialog panjang soal Islam. Anehnya, kata dia, si penjual ikan yang mengaku tidak lulus sekolah dasar (SD) itu sangat mahir dalam menceritakan soal Islam. Ia makin tertarik pada Islam.
Namun, sejak saat itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana, salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). “Saat saya datangi kampungnya, tidak ada satupun warganya yang menjual ikan dengan bersepeda,” tambahnya.
Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Karena dipengaruhi oleh pendeta dan saudara-saudaranya. “Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya. Jadi, kita memutuskan untuk bercerai,” katanya.
Namun, sambung dia, tidak lama setelah itu, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita, ia bermimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara, dia di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu. “Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar,” kata Yahya.
Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.
“Setelah sadar, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu,” ujarnya.
Setelah diceritakan ke istrinya, kata dia, istrinya semakin tidak percaya dan ingin bercerai dengan Yahya. Namun, beberapa jam kemudian, istrinya menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan. Akhirnya istri saya yang mengajak segera masuk Islam,” katanya.
Akhirnya, kata Yahya, bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah, Yahya dan istrinya mengucapkan dua kalimat syahadat. “Kekuatan saya, sekarang hanya shalat tahajud malam dan Dhuha pukul 08.00,” ujar mantan Rektor yang UKI Papua ini.

Yang kubaca, buku ini adalah cetakan pertama. Tebalnya 320 halaman, termasuk
lembar catatan di belakang. Halaman covernya cukup bagus, judulnya pun dicetak
dengan cetak timbul. Berawal dari seorang teman yang meminjamkan buku ini
padaku. ”Coba baca deh, isinya bagus .. .”
Sepintas aku lihat-lihat, buku ini khas dengan gaya bicara seorang pendeta.
Meletup-letup, bersemangat, bahkan aku bisa bayangkan sang penulis sedang
memberikan ceramahnya di depanku sambil mengacung-acungkan tangannya (seperti
pak SBY), Cuma bedanya dari SBY sang penulis melakukannya dengan nada suara
bersemangat dan meledak-ledak. Kira-kira seperti orang orasi.
Ada 7 bab dalam pembahasan ini. Yang terus terang, ini adalah sebenar-benarnya
buku yang pernah kubaca dan mampu ”menelanjangi” konsep keimanan kristen. Bukan
dengan membenturkannya dengan Islam, tapi membenturkannya dengan ayat-ayat
kitab sucinya sendiri (bibel). Aneh, begitu banyak kontradiksi dalam kitab suci
Injil ini (atau setidaknya, kitab suci yang orang-orang ”anggap” sebagai
injil). Ada yang bilang, ini bukan injil. Injil yang asli bukan seperti ini.
Tapi pada faktanya, kitab ini tetap dikenal sebagai injil. Meskipun, seperti
yang kubilang tadi banyak pertentangan, keanehan, ketidaklogisan dari kitab ini.
Konsep ketuhanan Kristen
”Benarkah Kristen ini adalah kelanjutan dari agama Yahudi?” Kalau ditilik dari
sejarah peristiwa pen-Tuhan-an Yesus, maka pikiran kita pasti akan kembali pada
peristiwa penyaliban yang dilakukan oleh Romawi kala itu. Ketika muncul
pertanyaan itu, jawabnya harusnya sederhana, ya .. atau tidak.
Jika Iya, bukankah seharusnya orang Arab dan Bani Israel memeluk Kristen?
Peristiwa tentang penyaliban Yesus ini terjadi di daerah Timur Tengah. Bahkan
dijelaskan di dalam alkitab, peristiwa penyaliban tersebut sangatlah
menggetarkan hati siapa saja yang melihat dan merasakannya. Dalam alkitab
dikatakan bahwa ketika Yesus disalib maka tanah terbelah, gempa bumi, dan
orang-orang mati bangkit (Lukas 23 : 44-49).
Logikanya sederhana, sekeras hati siapapun ketika sudah melihat dan merasakan
peristiwa ini pasti akan beriman. Peristiwa ini terjadi di Yerusalem di negeri
Yahudi. Jadi, seharusnya imannya orang Yahudi dan orang Kristen dewasa ini
pasti akan sama. Namun pada faktanya, Kristen menuhankan Yesus dan Yahudi
meng-Allahkan Yahwe, bukan Yesus.
Jika memang benar kata alkitab, bahwa dunia dan seisinya diciptakan oleh Tuhan
hanya dengar firman-Nya, apakah kemudian Tuhan kehilangan kekuatannya sehingga
untuk menyelamatkan manusia saja Dia harus turun ke bumi, disalib, dan mati
terlebih dahulu untuk menyelamatkan manusia?
Inti dari ajaran Kristen adalah ”penyelamatan” yang dilakukan oleh Tuhan Yesus
kepada umat manusia. Sehingga premis ”Yesus mati dahulu, barulah tiba
penyelamatan kepada semua manusia” adalah harga mati bagi keimanan Kristen
(Korintus 5:15, Roma 10:9, dsb; lihat Hal 34). Jika peristiwa penyaliban Yesus
sebagai akar keimanan Kristen terbantahkan, maka gugurlah batang dan daun
keimanan Kristen dan agama Kristen dewasa ini.
Inti dari keimanan Kristen adalah ”percaya saja!” maka akan selamat. Yesus
adalah juru selamat bagi dunia (Yohanes 3:16, Yohanes 14:6, Markus 16:16, dsb).
Yang terjadi adalah dogmatika atas nama Agama. Logika tertutup dan akal-budi
manusia ditekan. Karena, begitu mudahnya menemukan kontradiksi antara satu ayat
dengan ayat injil lainnya jika dogma telah terdobrak dan logika terbuka.
Jika ditilik lebih dalam, ayat-ayat tentang pen-Tuhan-an Yesus dan seputar
penyaliban Yesus ini berasal dari Paulus (yang dianggap sebagai Rasul Kristen).
Bahkan 99% ayat tentang pen-Tuhan-an Yesus berasal dari Paulus. Siapakah
Paulus?
Siapakah Paulus?
Boleh dibilang Paulus adalah tokoh paling terkenal dalam dunia Kristen. Bahkan
konon Michael Hart, pengarang buku 100 orang paling berpengaruh di dunia, cukup
ragu-ragu untuk meletakkan Paulus di bawah Yesus, mengingat begitu
berpengaruhnya ajaran Paulus dibanding Yesus. Aneh bukan?
Semua orang penganut Kristen pasti mengenal Paulus. Karena dalam ajaran
Kristen, Paulus adalah rasul yang cerdas, pintar, sabar, dan tegas. Yang entah
bagaimana, tiba-tiba dia berubah menjadi seorang yang baik hati setelah
sebelumnya dia dikenal sebagai pembunuh dan penjahat. Injil mengatakan bahwa
Paulus awalnya adalah penganut Taurat yang fanatik. ”Tentang kegiatan aku
penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat aku tidak
bercacat” (FILIPI 3 : 6). Namun di samping itu, sejak muda Paulus sangat
mengagumi budaya Yunani (helenisme) terutama pelajaran filsafatnya. Sehingga
dalam dirinya muncul dua pengaruh yang sangat kuat ini, penganut taurat dan
pengaruh filsafat helenisme.
Paulus sediri bukan orang Yerusalem dan bukan orang Nazareth, sehingga hal ini
membuktikan bahwa sejak muda Paulus tidak pernah berhubungan secara langsung
dengan Isa A.S. Dia bukanlah murid nabi ’Isa dan bukan pula pengikutnya baik di
Yerusalem dan di Nazareth.
Dengan demikian, wajar jika terjadi perbedaan yang sangat kontradiktif antara
ajaran Paulus dan ’Isa AS. Salah satunya tentang dosa warisan. ’Isa tidak
pernah membicarakan sama sekali tentang dosa warisan, sebaliknya ini adalah
ajaran Paulus. ”Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh
satu orang dan oleh dosa itu juga maut. Demikianlan maut itu telah menjalar
kepada semua orang, karena semu orang telah berdosa” (ROMA 5 : 12). Contoh lain
adalah tentang konsep pengampunan. ’Isa mengajarkan pengampunan dari Tuhan bagi
orang yang bertobat melalui ucapan, sikap, dan perbuatan. Sedangkan Paulus
mengajarkan pengampunan Tuhan atas dosa-dosa manusia semata-mata karena
pengorbanan atau penyaliban Yesus Kristus di kayu salib. Dsb.
Jika demikian, jika Paulus tidak pernah menjadi murid Yesus, jika predikat
”Rasul” adalah sesuatu yang tak pantas bagi Paulus, apakah tidak ada satu orang
pun yang mempertanyakan? Ternyata tidak. Injil pun memuat peristiwa ini ketika
orang-orang Korintus menanyakan perihal ini kepadanya sehingga membuat Paulus
semakin terdesak. Dalam Korintus 9 : 1 – 3 dikatakan :
1. ”Bukankah aku Rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat
Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku di dalam Tuhan?”
2. ”Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah Rasul, tetapi bagi kamu aku adalah
Rasul, sebab hidupmu dalam Tuhan adalah materai dari kerasulanku”
3. ”Inilah pembelaanku terhadap mereka yang mengkritik aku”.
”Bukankah aku Rasul? …. ” dari ayat ini saja kita sudah tahu bahwa Paulus
bukanlah seorang Rasul. Jika dia benar-benar Rasul, maka kalimat ini seharusnya
tidak boleh terucap dari mulutnya, sebab secara psikologis dan filosofis makna
kalimat ini menunjukkan kesombongan sekaligus perasaan khawatir bahwa
rahasianya sebagai Rasul palsu akan terbongkar.
Dari 27 kitab perjanjian baru Kristen, 14 kitab di antaranya adalah surat
Paulus. Rasul palsu itu. Sementara itu, seluruh kitab dalam perjanjian baru,
adalah karangan. Ada karangan Markus, Matius, Lukas, Yohanes, dll.
Jadi, setelah semua penjelasan di atas, menurut kita bagaimana kebenaran kitab
Injil sekarang? Tentu tidak logis, dan maksa banget kalau ada yang mengatakan
Injil berasal dari Tuhan.
Konsep Trinitas, dari siapa?
Sesungguhnya konsep Trinitas bukanlah konsep yang diajarkan oleh Yesus / ’Isa
AS. Konsep ’Isa adalah tauhid (pengesaan). Adapun konsep trinitas ada dan
diperkenalkan oleh Paulus. Perdebatan antara pendukung tauhid / unitarianisme
dengan pendukung trinitas tidak kunjung henti. Bahkan diwarnai dengan
pertumpahan darah pada abad I sampai abad ke IV.
Sehingga sejarah mencatat, pada tahun 325 Masehi, Kaisar Romawi Konstantin
mengundang para pendeta dari berbagai penjuru untuk berkumpul di Nicea (Italia)
dalam sebuah kongres. Kongres ini bertujuan untuk menentukan ajaran mana yang
akan dipegang dan dipertahankan. Apakah tauhid atau trinitas.
Setelah lama bersidang, di antara 2.048 pendeta yang hadir, 318 pendeta sepakat
menerima ajaran Paulus (trinitas) dan 1.730 lainnya tetap berpegang pada ajaran
Tauhid ’Isa. Dengan demikian, seharusnya tauhid-lah ajaran yang diakui dan
dipegang. Namun karena Konstantin sendiri adalah penganut paganisme, maka tak
heran, meskipun harus bertentangan dengan keputusan kongres, Konstantin
men-dekrit-kan ke seluruh dunia Kristen bahwa trinitas-lah yang harus dipegang.
Inilah tragedi dalam kepercayaan Nasrani yang amat menyedihkan. Sejak keputusan
itu, tokoh-tokoh Kristen yang masih mempertahankan ajaran unitarian ditangkap,
disiksa, dibunuh karena dianggap golongan sesat. Ketika Rasulullah datang dan
menyatakan diri sebagai utusan Allah, yang meneruskan misi Nabi Musa dan ’Isa,
mereka memeluk Islam secara massal. Di antaranya adalah raja Habasyah/Ethiopia
dan rakyatnya.
Dalam masa pasca kongres Nicea itu pula, ditetapkan :
1. Hari kelahiran Dewa Matahari dijadikan hari sabat Kristen, yaitu hari Minggu.
2. Tanggal kelahiran anak Dewa Matahari, 25 Desember, dijadikan hari kelahiran
Yesus.
3. Lambang Dewa Matahari, silang cahaya (salib), menjadi lambang Kristen.
Padahal aslinya, tidak ada yang tahu pasti kapan Yesus lahir.
Demikianlah, aqidah Kristen ini dibangun. Atas dasar imajinasi dan doktrin yang
terus menerus dihembuskan kepada para pengikutnya. Karena tanpa itu, akan mudah
sekali meragukan kebenaran ajaran Kristen lalu keluar dari Kristen, mengingat
sejarah lahirnya Kristen yang suram, sesuram masa depannya.
Allah SWT, berfirman :
”Sesungguhnya kamu akan menjumpai orang-orang yang paling memusuhi orang-orang
yang beriman, yaitu Yahudi dan orang-orang musyrik (trinitianisme, paganisme,
dan serupanya). Dan sesungguhnya kamu akan menjumpai orang yang paling dekat
persahabatannya dengan orang-orang yang beriman yaitu orang yang berkata :
”Kami adalah orang-orang Nasrani”. Yang demikian itu, disebabkan di antara
mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib,
(juga) mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa
yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan
air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab
mereka sendiri) seraya berkata : ”Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka
catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an
dan kenabian Muhammad)”.” (Q.S Al-Maidah : 82-83)
Demikian resume sederhana terhadap buku yang luar biasa ini. Masih banyak ilmu
yang terkandung dalam buku tersebut jika kita membacanya sendiri dengan penuh
perhatian. Semoga buku ini menjadi amal sholeh bagi penulisnya, dan penambah
timbangan amal baik bagi penulis dan pembacanya. Semoga dengan ini akan membuka
cakrawala berpikir bagi orang-orang yang mau berpikir tentang kebenaran Islam.